Laman

welcome to my blogg. and anjoy to see my blogg..

Jumat, 12 Desember 2014

PACARAN MENURUT ISLAM

Istilah pacaran tidak bias lepas dari remaja, karena salah satu ciri remaja yang menonjol adalah adanya rasa senang kepada lawan jenis disertai keinginan untuk memiliki. Pada masa ini, seorang remaja biasanya mulai ‘naksir’ lawan jenisnya. Lalu ia berupaya melakukan pendekatan untuk mendapatkan kesempatan mengungkapkan isi hatinya. Setelah pendekatannya berhasil dan gayung bersambut, keduanya mulai berpacaran.
          Pacaran dapat diartikan bermacam-macam, tetapi intinya adalah jalinan cinta antara seorang remaja dengan lawan jenisnya. Praktik pacaran juga bermacam-macam, ada yang sekedar berkirim surat, telepon, menjemput, mengantar atau menemani pergi ke suatu tempat, apel, sampai ada yang layaknya pasangan suami istri.
          Di kalangan remaja sekarang ini, pacaran menjadi identitas yang sangat dibanggakan. Biasanya seorang remaja akan bangga dan percaya diri jika sudah memiliki pacar. Sebaliknya remaja yang belum memiliki pacar dianggap kurang gaul. Karena itu, mencari pacar dikalangan remaja tidak saja menjadi kebutuhan biologis tetapi juga menjadi kebutuhan sosiologis. Maka tidak heran, kalau sekarang mayoritas remaja sudah memiliki teman spesial yang disebut “pacar”.
          Lalu bagaimana pacaran dalam pandangan islam?
          Istilah pacaran sebenarnya tidak dikenal dalam islam. Untuk istilah hubungan percintaan antara laki-laki dan perempuan pranikah, islam mengenalkan istilah “khitbah (meminang)”. Ketika seorang laki-laki menyukai seorang perempuan, maka ia harus mengkhitbahnya dengan maksud akan menikahinya pada waktu dekat. Selama masa khitbah, keduanya harus menjaga agar jangan sampai melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh islam, seperti berduaan, memperbincangkan aurat, menyentuh, mencium, memandang dengan nafsu, dan melakuakn hubungan selayaknya suami istri.
          Ada perbedaan yang mencolok antaara pacaran dengan khitbah. Pacaran tidak berkaitan dengan parencanaan pernikahan, sedangkan khitbah merupakan tahapan untuk menuju pernikahan. Persamaannya keduanya merupakan hubungan percintaan antara dua insane berlainan jenis yang tidak dalam ikatan perkawinan.
          Dari sisi persamaannya, sebenarnya hampir tidak ada perbedaan antar pacaran dan khitbah. Keduanya akan terkait dengan bagaimana orang mempraktikkannya. Jika selama masa khitbah, pergaulan antara laki-laki dan perempuan melanggar batas-batas yang telah ditentukan islam, maka itu pun haram. Demikian juga pacaran, jika orang dalam berpacarannya melakukan hal-hal yang dilarang oleh islam, maka hal itu haram. Jadi sebenarnya yang menjadi pijakan adalah bagaimana “pacarannya atau bagaimana dalam masa khitbahnya”, bukan pada istilah pacaran atau khitbahnya.
          Jika seseorang menyatakan cinta pada lawan jenisnya yang tidak dimaksudkan untuk menikahinya saat itu atau dalam waktu dekat, apakah hukumnya haram? Tentu tidak, karena rasa cinta adalah fitrah yang diberikan Allah, sebagaimana dalam firman-Nya berikut :


Artinya:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. Ar-Rum: 21)
                                                            
          Allah telah menjadikan rasa cinta dalam diri manusia baik pada laki-laki maupun perempuan. Dengan adanya rasa cinta, manusia bisa hidup berpasang-pasangan. Adanya pernikahan tentu harus didahului rasa cinta. Seandainya tidak ada cinta, pasti tidak ada orang yang mau membangun rumah tangga. Seperti halnya hewan, mereka memiliki instink seksualitas tetapi tidak memiliki rasa cinta, sehingga setiap kali bisa berganti pasangan. Hewan tidak membangun rumah tangga.
          Menyatakan cinta sebagai kejujuran hati tidak bertentangan dengan syariat islam. Karena tidak ada satu pun ayat atau hadis yang secara eksplisit atau implicit melarangnya. Isalam hanya memberikan batasan-batasan antara yang boleh dan yang tidak boleh dalam hubungan laki-laki dan perempuan yang bukan suami istri.
          Diantara batasan-batasan tersebut ialah :
1. Tidak melakukan perbuatan yang dapat mengarahkan kepada zina.
          Allah SWT berfirman “Dan janhanlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang kejii dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32) Maksud ayat ini, janganlah kamu melakukan perbuatan-perbuatan yang bisa menjerumusakn kamu pada perbuatan zina. Diantara perbuatan tersebut seperti berdua-duaan dengan lawan jenis di tempat yang sepi, bersentuhan termasuk bergandengan tangan, berciuman, dan lain sebagainya.
2. Tidak menyentuh perempuan yang bukan mahramnya.
          Rasulullah SAW bersabda, “Lebih baik memegang besi yang panas dari dapa memegang atau meraba perempuan yang bukan istrinya (kalau ia tahu akan berat siksaannya).”
3. Tidak berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya.
          Dilarang laki-laki dan perempuan yang bukan mahram untuk berdua-duaan. Nabi SAW bersabda, “barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya adalah setan.” (HR.Ahmad) Nabi juga bersabda, “Jangan sekali-kali salah seorang diantara mu menyendiri dengan seorang perempuan, kecuali bersama mahramnya. Dalam hal ini termasuk juga dengan ipar. Ada seorang Anshar bertanya kepada nabi, “Bagaimana pendapatmu tentang ipar?” Nabi menjawab, “Bersendirian dengan ipar sama dengan menjumpai mati.” (HR. Bukhari)
4. Harus menjaga mata atau pandangan
          Sebab mata itu kuncinya hati. Dan pandangan itu pengutus fitnah yang sering membawa kepada perbuatan zina. Oleh karena itu Allah berfirman, “Katakanlah kepada laki-laki mukmin hendaklah mereka memalingkan pandangan mereka (dari yang haram) dan menjaga kehormatan mereka...Dan katakanlah kepada kaum wanita hendaklah mereka meredupkan mata mereka dari yang haram dan menjaga kehormatan mereka....” (QS. An-Nur: 30-31)
          Yang dimaksudkan menundukan pandangan yaitu menjaga pandangan, tidak melepaskan pandangan begitu saja apalagi memandangi lawan jenis penuh dengan gelora nafsu. Kita hanya dibolehkan memandang lawan jenis seperlunya saja, tidak boleh berlebihan. Rasulullah bersabda, “Hai Ali! Jangan sampai pandangna yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pada pandangan yang pertama, adapun yang berikutnya tidak boleh.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi) Pandangan liar kepada lawan jenis dianggap rasulullah sebagai perbuatan zina, “Dua mata itu bisa berzina, dan berzinanya itu melihat.” (HR Bukhari) Dinamakan berzina karena dalam memandangnya mendatangkan kesenangan seksualitas dengan jalan yang tidak dibenarkan syariah.
5. Menutup aurat
          Diwajibkan kepada kaum wanita untuk menjaga aurat dan dilarang memekai pakaian yang mempertontonkan bentuk tubuhnya, kecuali untuk suaminya. Dalam hadis dikatakan bahwa wanita yang keluar rumah dengan berpakaian yang mempertontonkan lekuk tubuh, memakai minyak wangi yang baunya semerbak, memakai make up dan sebagainya, setiap langkahnya dikutuk oleh para Malaikat, dan setiap laki-laki yang memandangnya sama dengan berzina dengannya. Di hari kiyamat nanti perempuan seperti itu tidak akan memcium baunya surge (apa lagi masuk surga).
          Selagi batasan di atas tidak dilanggar, maka pacaran hukumnya boleh. Tetapi persoalannya mungkinkah pacaran tanpa berpandang-pandangan, berpegangan, bercanda ria, berciuman dan lain sebagainya? Kalau mungkin silahkan berpacran, tetapi kalau tidak mungkin maka jangan sekali-kali berpacaran karena azab yang pedih siap menanti anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar